Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu, Minggu & Hari Besar Tutup
Selamat Datang di Bukuajar.com Penerbit buku ajar, cetak buku ajar, jasa isbn
Beranda » Artikel Terbaru » BAHASA AKADEMIK DALAM PENULISAN BUKU AJAR *)

BAHASA AKADEMIK DALAM PENULISAN BUKU AJAR *)

Diposting pada 5 July 2018 oleh admin | Dilihat: 307 kali

BAHASA AKADEMIK DALAM PENULISAN BUKU AJAR *)

Prof. Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M.Hum.

PBSI FKIP & MPB Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

  1. Pengantar

Seorang filsuf besar Tiongkok abad V SM, Kong Hu Cu (Kong Fu-Tze) ditanya muridnya: “Guru, apa yang akan Anda lakukan pertama andai Guru diberi kekuasaan negara?”

Jawabnya: “Pertama-tama yang akan aku perbaiki adalah bahasa. “Mengapa?”

Karena, selama penggunaan bahasa tidak beres, maka yang diucapkan bukanlah yang 

dimaksud, yang dimaksud tidak dikerjakan, dan yang dikerjakan bukan yang dimaksud.

Oleh karena itu, hukum jadi kacau, pemerintah ruwet, negara berantakan.”

 

           Terdapat tiga komponen pokok yang menentukan bobot sebuah karya ilmiah (termasuk buku ajar) yakni (1)  substansi/isi keilmuan, (2) metode penelitian/prosedur ilmiah, dan (3) bahasa baku meliputi tata bahasa, diksi, serta ejaan (Nugrahani dan Al-Ma’ruf, 2015:3). Agar dapat menulis karya ilmiah yang berbobot diperlukan penguasaan bahasa akademik baik kaidah maupun aplikasinya. Tidak sedikit karya ilmiah yang berbobot dari segi substansi/keilmuan dan benar metodologisnya tetapi menjadi berkurang nilainya karena bahasanya berantakan.

Tentang wawasan keilmuan dan metode penelitian/prosedur ilmiah pada umumnya para akademisi atau ilmuwan relatif sudah menguasainya. Namun, pada umumnya mereka kurang memiliki penguasaan bahasa baku. Hal ini mungkin disebabkan oleh sikap “memandang sebelah mata” terhadap bahasa Indonesia baku mengingat bahasa Indonesia sudah dipelajarinya sejak mereka masih TK/SD hingga kuliah di perguruan tinggi sehingga banyak orang “merasa” sudah mampu mempergunakannya. Pandangan demikian tidak terlalu salah jika ditinjau dari kemampuan mereka menggunakan bahasa Indonesia lisan, terlebih bahasa gaul (ngrumpi). Ketika harus menggunakan bahasa Indonesia baku dalam karya ilmiah barulah terasa betapa sering mereka menghadapi kesulitan.

Berangkat dari pemikiran itulah dapat dipahami bahwa penguasaan bahasa   akademik (baku) dan penyusunan paragraf sangatlah vital dalam penulisan karya ilmiah. Senada dengan pernyataan Kong Fu-Tze di atas, pembaca akan sulit memahami maksud tulisan ilmiah yang bagus sekali pun jika bahasa yang dipakai sebagai media komunikasi mengalami banyak kesalahan.

_______________

*) Disajikan dalam Workshop Penulisan Buku Ajar bagi Dosen PTS Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah, 21-23 September 2015 di Kantor Kopertis VI Semarang.

  1. Sinergi Bahasa, Logika, dan Ilmu

“Bahasa menunjukkan bangsa.” Ungkapan ini relevan dengan fungsi penting bahasa. Di satu sisi, bahasa dapat berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi dengan orang lain guna menyampaikan pikiran dan perasaan. Di sisi lain bahasa juga mampu menunjukkan kapasitas ilmiah atau logika seseorang (Poedjawijatna, 1994:17), di samping mencerminkan karakter dan kebiasaannya. Tepatlah jika dalam budaya masyarakat Jawa  terdapat ungkapan: “Ajining  dhiri dumunung ana lati; ajining raga dumunung ana busana.” (harga diri seseorang bergantung pada apa yang dikatakannya; indahnya penampilan seseorang bergantung pada apa yang dipakainya). Itu sebabnya konon SBY sukses dalam Pemilu Presiden RI tahun 2004 dan 2009 antara lain karena bahasanya bagus dalam menyampaikan gagasan dan menciptakan pencitraan diri (SBY populer sebagai presiden RI yang paling piawai dalam pencitraan diri).

Bahasa berkaitan erat dengan logika. Keruntutan bahasa mencerminkan keruntutan logikanya. Benarlah apa yang dinyatakan Poedjawijatna (1994:17), bahwa dalam dunia ilmu, logika bahasa sangatlah penting. Oleh karena itu, bahasa ilmiah harus denotatif sifatnya,  tidak figuratif. Artinya, bahasa harus mencerminkan maksud setepat-tepatnya, tidak menimbulkan ambiguitas makna yang dapat mengakibatkan salah interpretasi.

Jika diberdayakan, bahasa mampu menjadi media komunikasi yang efektif (karya ilmiah), indah, menyentuh perasaan, merangsang imajinasi, dan menyenangkan (karya sastra, teater), bahkan menarik, menimbulkan simpati, dan menggerakkan emosi (retorika). Hal ini dapat terwujud jika pengguna bahasa dapat memanfaatkannya dengan plastis. Sebaliknya, bahasa akan dapat membuat orang menjadi jengkel, marah, emosi, bahkan antipati jika pengguna bahasa memakainya tidak sesuai dengan situasi pembicaraan, tidak bertaat asas dengan kaidah bahasa yang berlaku, diksi yang salah, dengan pembawaan atau cara yang salah. Akibatnya, mitra bicara (bahasa lisan) atau pembaca (bahasa tulis) enggan untuk mengikuti pembahasan lebih lanjut.

Dalam karya ilmiah, bahasa Indonesia harus baku, yakni baik dan benar sekaligus. Bahasa yang baik belum tentu benar dan bahasa yang benar belum tentu baik. Karena, masing-masing aspek itu memiliki kriteria tersendiri. Baik, bertautan dengan situasi kebahasaan, yakni dengan siapa, kapan, apa yang dibicarakan, dan di mana kita berbahasa, sedangkan benar berkaitan dengan kaidah bahasa. Adapun kaidah bahasa meliputi tiga komponen yakni struktur/tata bahasa (bentuk kata, dan tata kalimat), diksi (pilihan kata), dan ejaan.

Sungguh merupakan keniscayaan bahwa komunitas intelektual sangat berkepentingan dengan bahasa. Hal ini didukung realitas bahwa ilmuwan hampir setiap saat memanfaatkan bahasa dalam menyampaikan informasi berupa ilmu pengetahuan kepada orang lain baik secara lisan maupun tertulis, baik kepada publik maupun individu. Lebih-lebih akademisi dan mahasiswa yang kesehariannya harus membahas materi kuliah, menyusun makalah, dan skripsi.

Berdasarkan pemikiran itu, maka mahir berbahasa baku merupakan salah satu kebutuhan penting bagi ilmuwan yang dituntut harus mampu menulis karya ilmiah. Kompetensi menulis karya ilmiah merupakan sesuatu yang sangat vital bagi ilmuwan dalam upaya meningkatkan kualitas dan produktivitas keilmuan.

 

  1. Ragam Bahasa Baku dan Akademik

Bahasa Indonesia baku adalah bahasa Indonesia yang bertaat asas terhadap kaidah bahasa Indonesia yang meliputi tata bahasa (struktur), diksi, dan ejaan. Struktur bahasa menyangkut bentukan kata, tata kalimat, dan paragraf. Diksi menyangkut pemilihan kata/istilah yang tepat. Adapun ejaan berkaitan dengan pedoman ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (Kepmendiknas, 2009).

Bahasa baku juga sering dinyatakan sebagai bahasa yang baik dan benar. Baik menyangkut etika atau kesantunan berbahasa. Adapun benar berkaitan dengan struktur/tata bahasa. Oleh karena itu, bahasa yang benar belum tentu baik dan bahasa yang baik belum tentu benar. Contoh: “Pada bab II ini akan membahas kajian pustaka dan landasan teori.” Kalimat tersebut secara sekilas bagus. Padahal sebenarnya kalimat itu salah.

Adapun bahasa akademik memiliki  lima kriteria yakni (1) cendekia (logis), (2) lugas (to the point), (3) penalaran, (4) ekonomi kata (efisien dan efektif), dan (5) baku (standar) (Natawijaya, 1997:10-20). Ringkasnya, bahasa akademik digunakan dalam karya ilmiah dan dibuat oleh, dari, dan untuk kalangan ilmiah.

Substansi bahasa ilmiah adalah bahasa baku yang memenuhi empat kriteria sebagai berikut. Pertama, ragam bahasa baku digunakan untuk keperluan yang bersifat formal baik secara tertulis maupun lisan. Secara tertulis misalnya perundang-undangan, naskah pidato kenegaraan, makalah ilmiah, artikel ilmiah, laporan penelitian, dan surat-menyurat dinas. Secara lisan misalnya ceramah ilmiah, kuliah, seminar atau diskusi, dan pembicaraan dengan orang-orang yang dihormati atau orang-orang yang belum atau baru saja dikenal, dan sebagainya. Ragam baku tidak menggunakan dialek atau logat tertentu. Misalnya, tidak dibenarkan menggunakan kata [menghaturkan, penjenengan, slamet, dateng, nomer, dapet, mBali, mBogor] seharusnya [menyampaikan, Anda/Saudara, selamat, datang, nomor, dapat, Bali, Bogor].

Kedua, baik secara tertulis maupun lisan ragam bahasa akademik memenuhi fungsi gramatikal seperti subjek, predikat, dan objek secara eksplisit dan lengkap. Kalimat “Dalam bab III akan membahas kajian pustaka dan landasan teori” tidak benar, seharusnya ”Bab III akan membahas kajian pustaka dan landasan teori”.

Ketiga,  bahasa akademik menggunakan diksi (pilihan kata) baku yang lazim berlaku dalam masyarakat bahasa Indonesia. Tidak dibenarkan penggunaan kata [bilang, nggak, bikin, cuma, bini] seharusnya [mengatakan, tidak, buat, hanya, istri].

Keempat, secara tertulis bahasa akademik bertaat asas pada ketentuan-ketentuan yang berlaku pada Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan (EYD) (Kepmendiknas, 2009) dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (dulu: Pusat Bahasa).

         

  1. Kalimat Efektif

Agar mudah dipahami, karangan ilmiah harus menggunakan kalimat efektif. Artinya, kalimat dalam karangan ilmiah harus memenuhi kriteria bertaat asas pada kaidah (baku), ringkas, jelas, dan lugas.

Berikut adalah beberapa ketentuan kalimat efektif.

(1) Subjek tidak didahului preposisi (kata depan).

Subjek yang didahului kata depan akan menyebabkan gagasan kalimat menjadi kabur. Contoh berikut akan memperjelas hal itu.

1) Kepada Rektor Unikal dimohon memberikan sambutan dalam buku ini.

2) Bagi bangsa yang ingin maju, harus membiasakan budaya disiplin.

3) Menurut Swasono (1997)  menyatakan, bahwa koperasi merupakan pilar utama perekonomian rakyat Indonesia.

Ketiga kalimat tersebut tidak efektif. Informasi yang disampaikannya tidak jelas, karena subjek kalimatnya didahului oleh preposisi. Agar efektif, ketiga kalimat itu diubah dengan menghilangkan preposisi yang mendahului subjek.

Berikut perubahan keempat kalimat itu.

1) Rektor Unikal dimohon memberikan sambutan pada buku ini.

2) Bangsa yang ingin maju, harus membiasakan budaya disiplin.

3) Swasono (1997) menyatakan, bahwa koperasi merupakan pilar utama perekonomian rakyat Indonesia.

Satu hal yang perlu ditegaskan dalam konteks ini bahwa sebenarnya preposisi dapat saja pada awal kalimat, dengan syarat preposisi itu berfungsi sebagai keterangan, bukan subjek kalimat.

Berikut adalah contoh pemakaian preposisi yang benar dalam kalimat.

4) Bagi saya, perjuangan menuju reformasi total merupakan keharusan demi kemajuan bangsa Indonesia.

5) Kepada Dekan Fakultas Hukum UMS, waktu dan tempat kami sediakan.

6) Dalam makalah ini akan dibahas prospek dan tantangan ekonomi Indonesia

pada tahun 2006.

 

(2) Tidak terdapat subjek ganda.

Seperti halnya preposisi yang mendahului subjek kalimat, subjek ganda juga menyebabkan gagasan atau informasi yang disampaikan menjadi kabur. Akibatnya, gagasan yang ingin disampaikan penulis sulit dipahami oleh pembaca.

Contoh berikut akan memperjelas hal itu.

7) Pengembangan kemahasiswaan yang menekankan pada bidang keilmuan dan penalaran, kualitas lulusan perguruan tinggi akan  meningkat.

8) Penyelenggaraan seminar nasional seperti ini, kredibilitas kampus UISA makin terangkat.

Gagasan dalam kedua kalimat di atas (7 dan 8) akan menjadi jelas jika salah satu subjeknya diubah menjadi keterangan. Berikut adalah perubahan kalimat itu:

9) Dengan pengembangan kemahasiswaan yang menekankan pada  bidang keilmuan dan penalaran, kualitas lulusan perguruan tinggi akan meningkat.

10) Melalui penyelenggaraan seminar nasional seperti ini, kredibilitas kampus UISA makin terangkat.

 

(3) Kata penghubung seperti sedangkan, meskipun, dan, maka, sehingga, sebab tidak dipakai pada awal kalimat.

Sering dijumpai kalimat tunggal yang diawali oleh kata  sedangkan atau sehingga, seolah-olah kalimat tersebut dapat  berdiri sendiri. Menurut kaidah yang berlaku, kata sedangkan dan sehingga tidak dibenarkan mengawali kalimat tunggal.

Berikut adalah contoh penggunaan kedua kata sambung yang tidak tepat itu.

11) Dia sering membeli barang curian. Sedangkan pencurinya adalah kelompok penjahat tersendiri.

12) Para mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di kampus UMS. Sehingga, mereka tidak terlibat sebagai pelaku kerusuhan seperti pembakaran dan penjarahan.

Kata sedangkan dan sehingga semestinya dipakai dalam kalimat mjemuk  setara.

Dengan demikian, kalimat itu harus diubah menjadi sebagai berikut.

13) Dia sering membeli barang curian sedangkan pencurinya adalah kelompok penjahat tersendiri.

14) Para mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di kampus UMS sehingga mereka tidak terlibat dalam pembakaran dan penjarahan kota Solo.

Adapun kata-kata lain yang tidak boleh mengawali kalimat  tunggal adalah:  agar, ketika, karena, sebelum, sesudah, walaupun, dan meskipun. Kata-kata seperti itu hanya dapat mengawali anak kalimat dalam kalimat majemuk bertingkat. Lihat contoh berikut.

15) Agar dapat meraih IP tinggi, Anda harus aktif  kuliah dan mengerjakan tugas.

16) Meskipun berkedudukan tinggi, dia tetap ramah kepada semua orang.

 

(4) Predikat kalimat tidak didahului kata yang.

Kata yang dapat dipakai dalam kalimat, tetapi bukan di depan predikat kalimat. Jika kata yang diletakkan di depan predikat, predikat kalimat tersebut akhirnya hilang atau kabur karena  kata yang berfungsi untuk menerangkan suatu benda baik subjek  maupun objek. Lebih jelasnya lihat contoh berikut.

17) Peningkatan sumber daya manusia yang harus mendapat  perhatian kita secara serius guna menghadapi persaingan global.

18) Aktivitas ekstrakurikuler yang mampu menambah nilai lebih bagi para mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi.

Kalimat di atas akan lebih tepat jika diubah menjadi:

19) Peningkatan sumber daya manusia harus mendapat perhatian kita secara serius guna menghadapi persaingan global.

20) Aktivitas ekstrakurikuler mampu menambah nilai lebih  bagi para mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi.

Setelah kata yang dibuang, keberadaan predikat kalimat menjadi jelas.

 

(5) Unsur rincian sejajar atau paralel.

Maksud rincian sejajar adalah kata-kata yang dirinci itu harus menggunakan bentuk yang sama. Jika rincian pertama menggunakan bentuk men- , maka rincian berikutnya juga menggunakan bentuk men-. Jika rincian pertama menggunakan bentuk pen–an, rincian selanjutnya juga menggunakan bentuk  pen–an.

Contoh:

21) Benteng yang kokoh bagi manusia yang ingin meraih kebahagiaan di akhirat adalah pemahaman dan pengamalan ajaran agama secara menyeluruh (kaffah).

22) Pemimpin negara yang diktator akan mendatangkan kesengsaraan, ketakutan, dan ketidakadilan.   

Rincian yang sejajar (parallel) adalah: pemahaman dan pengamalan (kalimat 21); kesengsaraan, ketakutan, dan ketidakadilan (kalimat 22).

 

(6) Tidak terjadi pengulangan subjek.

Dalam kalimat majemuk bertingkat yang subjek anak kalimatnya sama dengan subjek induk kalimat, berlaku kaidah tersebut.  Subjek anak kalimat sebaiknya dihilangkan sedangkan subjek induk kalimat wajib ditampilkan (eksplisit).

Berikut adalah contohnya.

23) Karena kita melihat fakta, kita harus mengakui kebenaran berita itu.

24) Mereka segera diam ketika mereka melihat Mendiknas tiba di ruang itu.

Pembetulannya adalah sebagai berikut.

25) Karena melihat fakta, kita harus mengakui kebenaran berita itu.

26) Mereka segera diam ketika melihat Mendiknas tiba di ruang itu.

 

(7) Kata penghubung penanda anak kalimat dinyatakan secara eksplisit.

Struktur kalimat yang mengandung kata penghubung anak kalimat sering dijumpai dalam ragam berita. Di kalangan pers mungkin hal itu dilakukan untuk menghemat kata demi efisiensi. Dalam ragam ilmiah hal itu tidak dibenarkan. Kata penghubung penanda anak kalimat seperti ketika, setelah, dan agar harus jelas dinyatakan secara eksplisit.

27) Menanggapi peserta seminar, Amin Rais menyatakan bahwa perjuangannya dalam reformasi negara ini merupakan wujud pengamalan amar ma’ruf nahi munkar.

28) Melihat berbagai kezhaliman yang dilakukan para pejabat di antaranya korupsi, kolusi, dan nepotisme, kita tidak boleh tinggal diam.

Pembetulan kalimat-kalimat itu adalah sebagai berikut.

29) Ketika menanggapi peserta seminar, Amin Rais menyatakan bahwa perjuangannya dalam reformasi negara ini merupakan wujud pengamalan amar ma’ruf nahi munkar.

30) Setelah melihat berbagai kezhaliman yang dilakukan para  pejabat di antaranya korupsi, kolusi, dan nepotisme, kita tidak  boleh tinggal diam.

 

(8) Prinsip hemat kata (ekonomis).

Dalam ragam ilmiah, penggunaan dua kata yang bersinonim dalam sebuah kalimat harus dihindari karena hal itu termasuk  pemborosan kata. Kata-kata yang bersinonim yang sering digunakan sekaligus misalnya: adalah merupakan, demi untuk, seperti misalnya, lalu selanjutnya, maju ke depan, mundur ke belakang, demi untuk, dan agar supaya, kita semua, para bapak-bapak, hadirin sekalian. Salah satu kata itu tidak fungsional. Lihat contoh berikut.

31) Orang tua itu membanting tulang demi untuk masa depan anak-anaknya.

32) Internet adalah merupakan media elektronik yang bermata dua.

Pembetulan kalimat itu adalah:

33) Orang tua itu membanting tulang demi masa depan anak-anaknya.

34)  Internet adalah media elektronik yang bermata dua.

Juga kata “meskipun” tidak dibenarkan dipakai bersamaan dengan “tetapi” dalam satu kalimat. Misal, “Meskipun cantik tetapi Yulia galak sekali” seharusnya ”Meskipun cantik, Yulia galak sekali” (boleh juga: “Meskipun galak, Yulia cantik sekali” atau “Yulia memang galak tetapi cantik sekali”).

 

(9) Urutan kata tepat.

Dalam pemakaian bahasa ragam ilmiah, bentuk persona sering dijumpai salah urutan dalam menggunakan keterangan, pelaku, dan perbuatan.

Perhatikan contoh berikut.

35) Prestasi gemilang mahasiswa Unikal itu kami segera akan sampaikan kepada Rektor.

36) Dugaan mengenai keterlibatan para tokoh intelekual dalam demonstrasi buruh itu kami telah bahas pada minggu lalu.

Pembetulannya adalah sebagai berikut.

37) Prestasi gemilang para mahasiswa Unikal itu akan segera kami sampaikan kepada Rektor.

38) Dugaan mengenai keterlibatan para tokoh intelektual dalam demonstrasi buruh itu telah kami bahas pada minggu lalu.

Adapun bentuk pasif persona lainnya misalnya: sudah kami jelaskan, bukan: kami sudah jelaskan, dan sebagainya.

 

(10) Predikat kata kerja bentuk -kan dengan objek kalimat tidak tersisipi kata lain.

Sering dijumpai predikat yang berupa kata kerja bentuk -kan disisipi kata tugas terutama kata tentang dan mengenai. Menurut kaidah bahasa Indonesia, dalam kalimat aktif antara predikat bentuk kata kerja -kan dengan  objek tidak dibenarkan disisipkan kata tugas karena predikat-objek demikian merupakan suatu kesatuan.

Perhatikan contoh berikut.

39) Diskusi mahasiswa Unikal itu membicarakan tentang urgensi melek hukum dalam kehidupan masyarakat.

40) Kami sudah menjelaskan mengenai pentingnya aktivitas keilmuan bagi mahasiswa.

Agar efektif kalimat-kalimat itu seharusnya diubah menjadi sebagai berikut.

41) Diskusi mahasiswa Unikal itu membicarakan urgensi melek hukum ………

42) Kami sudah menjelaskan pentingnya aktivitas keilmuan bagi mahasiswa.

 

(11) Tidak menggunakan kata penghubung yang bertentangan.  

Dua kata penghubung yang saling bertentangan tidak dapat dibenarkan dipakai bersamaan dalam satu kalimat (majemuk). Dua kata penghubung tersebut misalnya: meskipun dan tetapi, walaupun dan namun, karena dan sehingga,  sebaiknya dipakai salah satu dalam satu kalimat.

Perhatikan contoh berikut.

43) Walaupun anak jenderal tetapi dia tidak arogan.

44) Karena banyak pejabat yang korup sehingga kini rakyat menderita.

Seharusnya kalimat itu diperbaiki menjadi:

45) Walaupun anak jenderal, dia tidak arogan.

46) Karena banyak pejabat yang korup, kini rakyat menderita.

 

(12) Mengedepankan objek daripada subjek.

Kalimat ilmiah harus mengedepankan objek (apa yang dibicarakan) daripada subjek (siapa yang membicarakan). Oleh karena itu, disarankan kalimat ilmiah menggunakan kalimat pasif bukan kalimat aktif dengan meminimalkan penggunaan kata penulis, peneliti, kami, saya, kita yang tidak tepat.

Perhatikan contoh berikut.

47) Dalam makalah ini penulis akan membahas urgensi ASI bagi kesehatan dan kecerdasan anak.

48) Pada bab II akan peneliti paparkan landasan teori.

Seharusnya kalimat di atas diubah menjadi:

49) Dalam makalah ini akan dibahas urgensi ASI bagi kesehatan dan …… (atau: Makalah ini akan membahas urgensi ASI bagi kesehatan dan ……….).

50) Pada bab II akan dipaparkan landasan teori (atau: Bab II akan memaparkan landasan teori).

 

  1. Kesalahan Umum dalam Praktik Penggunaan Bahasa Indonesia

Jika dicermati, ternyata dalam praktik penggunaan bahasa Indonesia sering sekali terdapat kesalahan yang sifatnya umum di kalangan masyarakat. Tidak terkecuali kesalahan itu dialami pula oleh para ilmuwan dan eksekutif.

Kesalahan-kesalahan berbahasa Indonesia itu dapat dikategorikan dalam empat hal, yakni: (1) kesalahan karena struktur/tata bahasa, (2) kesalahan karena diksi, (3) kesalahan karena ejaan, dan (4) kesalahan karena kerancuan logika (Nugrahani dan Al-Ma’ruf, 2008:7).

4.1 Kesalahan karena struktur (tata bahasa)

          Kesalahan karena struktur bahasa lazim disebut gejala bahasa. Kesalahan-kesalahan itu antara lain:

4.1.1 Kontaminasi, yakni kerancuan bahasa baik dari segi  bentuk kata maupun kalimat.

Contoh dalam bentuk kata:

– diperdalamkan             seharusnya     diperdalam/didalamkan

– menyenyampingkan     seharusnya    mengesampingkan

– pertanggungan jawab  seharusnya     pertanggungjawaban

– mengetemukan            seharusnya     menemukan

– diketemukan                seharusnya     ditemukan

 

Contoh dalam kalimat:

  • Kepada Ibu Ely dipersilahkan menyajikan makalahnya (seharusnya: Ibu Ely dipersilakan menyajikan makalahnya).
  • Dalam bab II membahas teori Psikoanalisis (seharusnya: Bab II membahas teori

Psikoanalisis bab II akan dibahas teori Psikoanalisis).

  • Bagi Anda yang ingin mengikuti lokakarya dipersilakan menghubungi Ibu Kus. (seharusnya: Anda yang ingin mengikuti lokakarya dipersilakan menghubungi Ibu Kus)
  • Meskipun pandai tetapi Aisya tetap ramah (seharusnya: Meskipun pandai, Aisya tetap ramah, atau Aisya pandai tetapi tetap ramah).

 

4.1.2 Pleonasme, yakni penggunaan dua kata yang sama/sepadan artinya dalam

          sebuah kalimat.

Misal:     – lalu selanjutnya              – adalah merupakan

– para hadirin                     – sejumlah teori-teori

– maju ke depan                 – naik ke atas

– seperti misalnya            – agar supaya

– mereka semua                – kita-kita, kita semua

 

4.1.3 Analogi yang salah, yakni maksudnya membuat kata yang analog dengan

         contoh yang ada, tetapi karena keterbatasannya menjadi salah.  

Misal: dari putera-puteri, dewa-dewi (benar: diadopsi dari bahasa Sanskerta), lalu dibentuklah: mahasiswa-mahasiswi, siswa-siswi, saudara-saudari, pemuda-pemudi, dan sebagainya.  Pasangan kata bentukan itu salah karena tidak bertaat asas pada kaidah bahasa Indonesia. Jenis kelamin dalam bahasa Indonesia dinyatakan dengan pasangan kata. Misal: suami-istri, ayah-ibu, laki-laki-perempuan, paman-bibi, bukan dengan fonem a-i. (Perhatikan pula pasangan jenis kelamin dalam bahasa Arab: hadhirin- hadhirat; muslimin-muslimat  dan bahasa Inggris: father-mother; brother-sister).

 

4.2 Pemakaian diksi yang tidak tepat, termasuk pemakaian preposisi (kata depan) dan konjungsi (kata penghubung).

Misal:    (12)  Adam lebih pandai dari yang lain (seharusnya: daripada).

  • Dalam pada itu dia memberikan pendapat mengenai …..

              (seharusnya:  Dalam kesempatan itu ….. )

  • Ketua daripada BEM UMS adalah mahasiswa Fak. Psikologi

(seharusnya: Ketua BEM  UMS …..).

  • Mahasiswa baik pria dan wanita wajib berjuang

(seharusnya: Mahasiswa baik pria maupun   wanita ………).

  • Pak Ikhsan yang mana dia adalah Dekan Fakultas Hukum UMS juga dikenal sebagai ustadz.

(seharusnya: Pak Ikhsan, Dekan Fakultas Hukum UMS juga dikenal …..).

  • Narkoba di mana kini menjadi masalah besar bagi bangsa Indonesia telah memakan kurban jutaan orang setiap tahunnya.

(seharusnya: Narkoba kini menjadi masalah besar bagi bangsa Indonesia……..).

 

4.3 Kesalahan karena ejaan yang salah, yakni penulisan kata  yang tidak sesuai

      dengan pedoman ejaan yang berlaku.

Misal: (18) Prestasi akademiknya diatas rata-rata mahasiswa UNIBA (mestinya:

Prestasi akademiknya di atas rata-rata mahasiswa UNIBA)

  • Indek prestasi Andi menukik kebawah (mestinya: Indek prestasi Andi menukik ke bawah)
  • Ibu muda itu melahirkan anak ke lima (mestinya: Ibu muda itu melahirkan anak kelima)
  • Dia di tendang oleh lawan politiknya (mestinya: Dia ditendang oleh lawan politiknya)
  • Sekalipun dia belum pernah absen (seharusnya: Sekali pun dia belum

pernah absen, bandingkan dengan: Sekalipun kaya, Hasan tetap ramah).

  • analisa (seharusnya: analisis), tradisionil (seharusnya: tradisional)

inter disiplin (mestinya: interdisiplin), tehnik (mestinya: teknik).

  • T. Pustaka Firdaus, Rp. 10.000,-, apotik, hipotesa, disamping, keatas,

diantara, S.W.T., SAW (seharusnya: PT Pustaka Firdaus, Rp 10.000,00,

apotek, hipotesis, di samping, ke atas, di antara, Swt., Saw.).

 

4.4 Kesalahan karena kerancuan logika, yakni terjadinya kesalahan semantis

      karena adanya kerancuan penalaran.

Misal: (25)  Orang Solo berperangai halus (generalisasi yang latah, seharusnya: Orang

Solo pada umumnya berperangai halus)

  • Masyarakat Indonesia berkepribadian religius (generalisasi yang keliru,

seharusnya: Masyarakat Indonesia rata-rata berkepribadian religius).

  • Kepada Rektor UGM waktu kami persilakan (seharusnya: Kepada Rektor UMS waktu kami serahkan; atau Rektor UGM kami persilakan untuk..…)

 

  1. Penyusunan Paragraf

          Ide karangan ilmiah harus mudah dipahami pembaca. Untuk itu, paragraf-paragraf dalam karangan ilmiah harus memenuhi dua syarat, yaitu kesatuan yakni mengacu ke pertautan makna (koherensi) dan kepaduan yakni mengacu ke pertautan bentuk (kohesi).

Paragraf memenuhi syarat kesatuan jika hanya mempunyai satu topik. Kalimat-kalimat yang membentuk paragraf tidak menyimpang dari topik. Paragraf memiliki syarat kepaduan jika  kalimat-kalimat yang membangun paragraf tersebut disusun secara logis dan diikat dengan pengait paragraf, seperti ungkapan penghubung antarkalimat, kata ganti, dan pengulangan kata  kunci atau kata yang dipentingkan.

Secara garis besar paragraf terbagi menjadi dua macam yakni paragraf deduktif dan paragraf induktif. Dalam variasinya terdapat paragraf sentral dan paragraf komprehensif. Penjelasannya adalah sebagai berikut.

  • Paragraf yang berangkat dari kalimat utama kemudian diikuti kalimat-kalimat penjelas disebut paragraf deduktif,
  • Paragraf yang diawali rincian berupa kalimat-kalimat penjelas dan diakhiri dengan suatu simpulan berupa kalimat utama disebut paragraf induktif.
  • Paragraf campuran deduktif-induktif yakni paragraf dimulai dengan kalimat utama dilanjutkan dengan penjelaan dan diakhiri dengan simpulan.
  • Paragraf sentral yakni paragraf yang kalimat topiknya berada di tengahnya.
  • Paragraf komprehensif adalah paragraf yang keseluruhan kalimat dalam paragraf merupakan kalimat topik (Nugrahani dan Al-Ma’ruf, 2008:79-80).

 

Contoh paragraf Deduktif.

Kesetaraan gender kini menjadi wacana yang sering diperbincangkan dalam berbagai forum ilmiah. Hal itu wajar mengingat sampai saat ini masyarakat Indonesia mayoritas masih masyarakat patriarki. Yang dimaksud dengan gender adalah konstruksi sosial budaya yang diciptakan oleh masyarakat pada waktu dan tempat tertentu. Perspektif gender dalam kehidupan masyarakat Amerika Serikat berbeda dengan masyarakat Indonesia.

 

Contoh paragraf Induktif.

Budaya asing boleh saja menembus budaya masyarakat Surakarta. Berbagai produk budaya Barat seperti music jazz, rock, blues, break dance, disco, atau tarian ballet, busana ala barat yang serba glamor, bisa saja disukai masyarakat. Bahkan, gaya hidup Barat yang menekankan kebebasan bisa saja mulai menarik perhatian generasi muda. Akan tetapi, kearifan lokal (local wisdom) dalam masyarakat Jawa yang adiluhung seperti sikap tepaselira, andhap asor, rukun, dan gotong royong, harus tetap dilestarikan.

Contoh paragraf Sentral.

Dalam era reformasi banyak agenda permasalahan yang harus segera dipecahkan oleh bangsa Indonesia. Dari sekian agenda permasalahan tersebut bidang politik merupakan salah satu masalah yang sangat penting. Hal ini mengingat bahwa hampir semua permasalahan yang melanda bangsa Indonesia selama sekitar 32 tahun pemerintahan orde baru bermuara pada masalah politik yakni adanya pseudo-demokrasi (demokrasi semu).

 

Contoh paragraf Komprehensif.

Berdasarkan pemikiran di atas dapat disimpulkan bahwa senam aerobic, body language dan/atau fitness merupakan aktivitas penting bagi perempuan eksekutif/karier untuk menjaga kesehatan jasmani dan menjaga penampilan. Oleh karena itu, agar badan tetap sehat, bugar, dan langsing (slimmy and sexy), tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak berolahraga senam aerobic, body language dan/atau fitness sesuai dengan kegemaran masing-masing.

 

  1. Penutup

Sebenarnya setiap ilmuwan sudah memiliki kemampuan berbahasa Indonesia. Adapun penguasaan bahasa Indonesia baku/akademik lazimnya belum menjadi kebutuhan bagi ilmuwan kecuali setelah mereka dihadapkan pada penulisan karya ilmiah. Dalam kondisi demikian penguasaan bahasa baku merupakan keharusan bagi mereka di samping penguasaan ilmu dan metodologi penelitian.

Penguasaan bahasa baku memang penting. Namun demikian yang lebih penting adalah bagaimana ilmuwan mampu mengaplikasikannya dalam penulisan karya ilmiah, termasuk penulisan buku ajar. Selamat berkarya dan berprestasi.

 

Daftar Pustaka

 

Akhadiah, Sabarti, Maidar G. Arsyad, dan Sakura M. Ridwan. 2012. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

 

Nugrahani, Farida dan Ali Imron Al-Ma’ruf. 2015. Metode Penulisan Karya Ilmiah

            Panduan bagi Mahasiswa, Ilmuwan, dan Eksekutif. Yogyakarta: Pilar Media.

 

Natawidjaja, P. Suparman. 1997. Teras Komposisi. Jakarta: PT Intermasa.

 

Kemendiknas. 2009. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

          Jakarta: Kemendiknas RI.

 

Rifai, Mien A. 2012. Pegangan: Gaya Penulisan, Penyuntingan, dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

ooOoo

 

Ingin Cetak atau menerbitkan buku ajar ? ==> 0823-3033-5859

Bagikan informasi tentang BAHASA AKADEMIK DALAM PENULISAN BUKU AJAR *) kepada teman atau kerabat Anda.

BAHASA AKADEMIK DALAM PENULISAN BUKU AJAR *) | BukuAjar.com

Belum ada komentar untuk BAHASA AKADEMIK DALAM PENULISAN BUKU AJAR *)

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
OFF 2%
QUICK ORDER
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK: (Mahir dalam Perencanaan dan Penganggaran Keuangan Daerah)

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 98.000 Rp 100.000
Ready Stock / ASP-100
OFF 7%
QUICK ORDER
Ringkasan Materi USBN Bahasa Indonesia SD/MI

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 195.000 Rp 210.000
Ready Stock / MUS-09
Rp 195.000 Rp 210.000
Ready Stock / MUS-09
OFF 7%
QUICK ORDER
Edible Coating dan Film dari Biopolimer Bahan Alami Terbarukan

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 70.000 Rp 75.000
Ready Stock / ECF-99
SIDEBAR